Pertempuran Laut Aru. Kisah Heroik Yos Sudarso yang Terkubur di Luasnya Samudra

iklan
Markas Besar Angkatan Laut awal Januari 1962. Wajah Menteri/Panglima Angkatan Laut Laksamana Raden Eddy Martadinata nampak agak kurang cerah, ketika pulang dari rapat Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat yang baru saja diikutinya di Istana Negara. Lembaga ini merupakan komando Operasi militer paling tinggi yang dibentuk dengan tugas khusus untuk membebaskan Irian Barat.

Komando tersebut dipimpin langsung oleh Presiden / Panglima Tertinggi Soekarno. Dalam komando pelaksanaan tugas tersebut, Bung Karno memegang Jabatan Panglima Besar. Ia dibantu seorang Wakil Panglima Besar, dijabat oleh Jenderal Abdul Haris Nasution serta didukung Kepala Staf, Kolonel Achmad Yani. Sebagai seorang pelaut profesional, komitmen Martadinata dalam menangani segala macam permasalahan kelautan, tidak ada yang meragukan.

Semasa perang kemerdekaan, ketika banyak warga masyarakat Indonesia masih belum memahami arti pentingnya peranan laut, Martadinata telah diberi tugas oleh KSAL Subyakto untuk menyelenggarakan sekaligus memimpin Special Operation (S.O). Menurut Subyakto, S.O merupakan lembaga pendidikan lanjutan untuk para perwira laut, Pendidikan tersebut diselenggarakan khusus untuk mempersiapkan para perwira laut yang akan bertugas memimpin armada kapal-kapal cepat. Kapal tersebut dirancang bisa menembus Blokade Belanda, agar pasukan Republik tetap memperoleh senjata dan amunisi untuk meneruskan perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan. Pendidikan S.O mengambil tempat di Telaga Sarangan, Lereng Gunung Lawu, Jawa Timur, tempat di tepi Usaha menerobos blokade kecuali berbahaya terbukti sangat penting.

Apalagi karena kenyataannya, semasa perang kemerdekaan Indonesia, Angkatan Laut Belanda melakukan blokade secara total terhadap wilayah Republik. Dengan demikian bisa dimaklumi, meskipun pada saat itu Martadinata menghadapi kendala kelangkaan dana dan daya, namun dia telah berfikir jauh  ke depan. Ia sudah mengantisipasi datangnya peluang dengan kapal cepat untuk bisa menerobos blokade lawan, sebagai salah satu upaya untuk  tetap bisa mempertahankan kedaulatan bangsa dan negara.

Pada siang itu, selesai menghadiri rapat di Istana, Martadinata langsung mengumpulkan seluruh anggota Staf Operasi MBAL. Dengan kalimat jernih, kepada semua stafnya, dia mengungkapkan hasil rapat di Istana. "Presiden / Panglima Tertinggi baru saja  memerintahkan untuk segera dilakukan infiltrasi, mendaratkan pasukan untuk masuk ke wilayah Irian Barat...", Menurut Martadinata, sambil menunggu perintah Bung Karno, infiltrasi tersebut akan dilakukan oleh satu kompi pasukan angkatan darat, terdiri dari para putera daerah asal Irian. Pasukan yang bakal dikategorikan sebagai sukarelawan termasuk sebelumnya sudah melakukan latihan militer dengan cukup intensif. Sesuai perintah Panglima Tertinggi, infiltrasi akan dilakukan melalui laut, tanggal 15 Januari pukul 24.00, dengan sasaran wilayah di arah Selatan Kaimana, di sekitar Vlakke Hoek.

Dengan cepat melirik Sudomo, Martadinata langsung menambahkan, "Siapkan material dan personil untuk menunjang Operasi tersebut", Letnan Kolonel Sudomo, Kepala Direktorat Operasi dan Latihan MBAL, segara menjawab dengan singkat, "Siap Pak, kami laksanakan."

Sudomo sama sekali tidak heran dengan datangnya keputusan rapat semacam itu. Dalam benaknya masih segar ingatan mengenai suasana pada tanggal 19 Desemher 1961, kurang dua Minggu sebelum rapat di MBAL ini berlangsung. Di depan rapat raksasa Alun-alun Utara Yogyakarta, Presiden / Panglima Tertinggi baru saja mengumandangkan Tri Komando Rakyat (Trikora). lsi perintah yang disampaikan secara langsung di depan massa tersebut mencakup tiga hal:
Pertama, Gagalkan pembentukan Negara Papua.
Kedua, Kibarkan bendara Marah Putih di bumi Irian Barat.
Ketiga, Perintah mobilisasi.
Pada saat itu Sudomo merasa yakin, rapat yang baru saja diikuti oleh Men/Pangal, merupakan salah satu bentuk penjabaran dalam pelaksanaan Trikora. Terutama, sesudah dia juga menyadari, pada tanggal 2 Januari 1962, lewat Surat keputusan Presiden No. I tahun 1962, Bung Karno telah menunjuk Mayor Jenderal Soeharto untuk memegang Jabatan  Panglima Komando Mandala. 
PERSENGKETAAN SEJAK KMB 
Persengketaan  antara pemerintah Indonesia dengan pihak Belanda mengenai wilayah Irian Barat sudah berlangsung sejak berakhirnya Konferensi Meja Bundar (KMB). Hasil utama KMB adalah pengakuan kedaulatan bagi Republik Indonesia di seluruh bekas wilayah Hindia Belanda dengan pengecualian, wilayah Irian Barat. Pembahasan terhadap wilayah seluas 160.618 mil persegi yang terletak di ujung timur wilayah Indonesia tersebut, sesuai dengan keputusan KMB, disepakati untuk ditunda satu tahun kemudian. Jangka waktu setahun sesuai kesepakatan awal KMB, akhir malah berlarut-larut. Pemerintah Belanda dengan nekat terus mempertahankan wilayah tersebut. Sementara usaha Indonesia membawa persengketaan ini agar bisa dibicarakan dalam sidang umum PBB menemui kegagalan. Kegagalan tersebut sebagai akibat pelaksanaan perhitungan suara PBB pada akhir November 1957 menunjukkan : 41 negara mendukung, 29 menentang dan sebelas negara abstain. Hasil perhitungan suara tersebut artinya, masih kurang 14 suara agar bisa mencapai dua pertiga jumlah negara anggota, untuk mengangkat persengketaan Irian Barat masuk dalam agenda sidang umum PBB. Situasi semacam ini akhirnya memaksa pemerintah Indonesia menempuh jalan lain.
Awal Desember tahun 1957, jalan Iain tersebut mulai muncul. Uni Indonesia Belanda sesuai hasil KMB, secara sepihak dibatalkan oleh pemerintah Indonesia. Langkah keras ini berlanjut dengan pengusiran sekitar 50.000 warga negara Belanda serta dinasionalisasikannya semua milik Belanda yang tertinggal di Indonesia. Pihak Belanda tampaknya tetap saja berkepala batu. Pertengahan April 1960, mereka justru mengumumkan diperkuatnya pertahanan Irian Barat dengan mendatangkan sebuah kapal induk, penambahan jumlah pasukan infanteri serta diperbantukannya satu skuadron pesawat Jet tempur. Di samping memperkuat pertahanan di Irian, pemerintah Belanda juga mengumumkan rencana pembentukan negara Papua, langkah semacam ini jelas tidak baik, tidak meredakan ketegangan antara Indonesia dan Belanda. Justru memaksa pihak Indonesia mengambil langkah drastis.

Pada pertengahan Agustus 1959, di tengah-tengah pidato memperingati Proklamasi Kemerdekaan, Presiden Soekarno  menyatakan putusnya hubungan diplomatik antara kedua negara. Sampailah kemudian, dengan memilih tanggal dimulainya Agresi Militer pertama ke ibukota Republik di Yogyakarta 19 Desember 1948. Bung Karno pada tanggal yang sama dan kata yang sama juga, mengumumkan Tri Komandan Rakyat, Sesudah menerima perintah dari Men/Pangal untuk mempersiapkan perintah operasi, Letkol Sudomo kemudian menyelenggarakan rapat staf. Dalam rapat tersebut dibahas berbagai macam alternatif. Menurut kajian, kapal selam merupakan sarana angkutan infiltran yang paling ideal dan tidak banyak menghadapi resiko.

Hanya saja, kapal selam memiliki keterbatasan dan daya angkut jumlah pasukan. Di samping itu, pada kenyataannya armada kapal selam Indonesia saat itu masih belum siap untuk mendukung operasi infiltrasi. Secara sangat kebetulan, pada saat itu armada ALRI baru saja diperkuat dengan kedatangan delapan Kapal Cepat Torpedo (KCT) Motor Torpedo Boat (MTB) yang dibeli dari Jerman. Barat. Empat dari delapan KCT itulah yang kemudian dipilihnya sebagai kapal pengangkut infiltran. Alasan untuk memilih KCT karena KCT merupakan kapal paling baru, larinya Cepat dan mudah bergerak dengan tangkas seandainya harus membawa tambahan pasukan. Pada rapat terbatas ini juga sudah ikut dibahas kelemahan mendasar dari MTB eks Jerman Barat tersebut. Industri Jerman yang baru saja kalah dalam PD II dibatasi dalam memproduksi peralatan perang. Termasuk kena pembatasan produksi torpedo. Dengan demikian MTB yang sewajarnya harus selalu membawa senjata utama torpedo, diterima Indonesia dengan tabung torpedo dikosongkan. Semua rencana awak MTB Jerman tersebut akan di lengkapi torpedo yang akan dibeli dari Inggris. Sayangnya setelah konflik Irian Barat semakin panas, Inggris justru memberlakukan larangan pengiriman senjata strategis, termasuk torpedo terhadap Indonesia.
SUDOMO SEBAGAI KOMANDAN
Bagaimanapun juga, Sudomo segara menyusun gugus tugas dengan mengandalkan dukungan dari keempat KCT eks Jerman Barat tersebut. Masing-masing RI Matjan Tutul dengan komandan Kapten Wiranto, RI Matjan Kumbang dipimpin Kapten Sidhoparomo, dan Rl Harimau dengan komandan Kapten Samuel Muda dan satu lagi RI Singa. Satuan ini diberi nama Satuan Tugas Chusus IX (STC-9). Tetapi sesudah satuan tugas ini terbentuk, langsung muncul persoalan baru, siapa yang harus ditunjuk menjadi komandan "Hari itu pula saya kumpulkan semua perwira dengan pangkat Letnan kolonel dan Mayor yang bertugas di lingkungan MBAL. Pokoknya, semua perwira yang pangkatnya lebih tinggi dari para komandan KCT. Saya beberkan rencana operasi, mengangkut pasukan untuk di daratkan di Irian dan langsung harus bisa kembali secepatnya ke Jakarta. Saya tawarkan posisi tersebut, "Siapa yang secara sukarela bersedia menjabat komandan satgas?," beber Sudomo. Menurut Sudomo, tak tampak satu pun perwira di ruangan yang berani angkat tangan. Ia menarik kesimpulan, tidak ada perwira yang punya keberanian untuk memimpin satgas tersebut. Secara pribadi ia merasa operasi laut semacam itu sangat berbahaya dan sulit dipertanggung jawabkan, karena tidak memenuhi semua ketentuan sebagaimana dipersyaratkan layaknya suatu operasi militer. Satuan tugas tersebut diberangkatkan menuju daerah operasi yang letaknya 2.000 mil laut dari pangkalan awal di Tanjung Priok, Jakarta. Untuk bisa mencapai sasaran sejauh itu, STC IX ini perlu melakukan tiga kali temu kumpul (rendezvous) untuk pengisian bahan bakar, yang semuanya harus dilakukan di tengah laut, agar mampu menjaga faktor kerahasiaan.
Kelemahan-kelemahan lain ialah kapal cepat torpedo tersebut tidak dilengkapi dengan senjata utama torpedo untuk dapat melawan serangan kapal di permukaan air yang memiliki senjata meriam kaliber besar. Untuk menghadapi serangan udara kapal diperlengkapi dengan dua Boffors kaliber 40 mm dan dua senapan mesin kaliber 12,7 mm. Faktor rawan lainnya ialah tidak adanya bantuan udara maupun tembakan dari udara khususnya pada waktu malam hari (infiltrasi dari laut dilakukan malam hari), karena angkatan udara kita belum memiliki pesawat sejenis yang dimiliki oleh Belanda ialah Neptune dengan 2 kemampuan tersebut.
Itulah berbagai masalah yang saat itu menimpa Sudomo. Merancang suatu operasi militer yang sama sekali tidak ditunjang dengan persyaratan minimal. Bagaimanapun juga, perintah adalah perintah, apalagi kali ini datangnya dari Panglima Tertinggi. Rapat segera  dibubarkan dan Sudomo langsung melaporkan hasilnya kepada Deputi I Angkatan Laut, Komodor Yosaphat Soedarso, rekan satu kelas semasa mengikuti pendidikan Sarangan.
”Lapor, karena tidak ada perwira yang berminat untuk menjabat Komandan Satgas KCT, mohon izin, saya sendiri memimpin satgas ini," kata Sudumo tegar. Jawaban langsung diberikan Yos Soedarso, "Kalau kau berangkat, saya juga akan ikut berangkat...".
DAMPAK POLITIKNYA BESAR
Terus terang mendengar jawaban spontan semacam itu, hati Sudomo justru semakin bingung. Pada waktu itu, Yos adalah pejabat penting. Selaku Deputi I, dia adalah orang  kedua dalam jajaran ALRI. Sedangkan operasi yang bakal dilakukan, sifatnya gerakan infiltrasi sekaligus aksi intelijen yang sulit dipertanggung jawabkan secara militer. Tidak sekedar berpatroli  dekat perbatasan, melainkan harus  masuk langsung ke wilayah musuh. Kemungkinan berhasil dalam perhitungan Sudomo memang masih terbuka. Tetapi, tingkat kerawanannya sangat tinggi. Sehingga misalnya sampai terjadi sesuatu kepada orang nomor dua dalam jajaranan ALRI tersebut, pasti akan menyeret dampak politis teramat besar. Mungkin tak bakal sebanding dengan keterlibatan seorang Deputi Operasi. Maka dengan nada halus Sudomo berusaha mencegah agar Komodor Yos Soedarso tidak usah ikut dalam pelaksanaan operasi rahasia ini. Tetapi usahanya sia-sia. Yos masih tetap saja memaksa. Terutama setelah dia sempat mendengar, Kolonel Moersjid, Asisten Operasi KSAD, juga bakal ikut. Dalam operasi infiltrasi ini, "Lalu bagaimana ini, masa Moersjid bisa ikut kok saya malahan tidak? ini kan kapal Angkatan Laut?".
Menurut Moersjid, rangkaian infiltrasi yang dikelola Angkatan Darat dengan menyelundupkan pasukan ke daerah musuh, sudah beberapa kali dilakukan. Perwira penanggung jawab program infiltrasi berada pada Kolonel Magenda, asisten intelijen KSAD, dengan perwira pelaksana Letnan Kolonel Roejito.
"Terus terang waktu itu kami belum merasa puas. Masuk, untuk merebut pulau segede Irian, hanya pakai infiltrasi kecil-kecilan" Sesudah mempelajari berbagai kenyataan di lapangan, pimpinan Angkatan Darat agaknya ingin mengubah kebijakan. Mereka kemudian mempersiapkan tenaga infiltran dalam jumlah besar. Pada umumnya, pasukan tersebut beranggotakan putera daerah, warga Irian yang sejak dulu telah mendukung  Republik.

Kolonel Moersjid, perwira militer yang merintis karier dalam Divisi Siliwangi, menyatakan, "Sebagai Asisten Operasi KSAD, apa saya harus duduk dan Ongkang-ongkang di belakang meja? Saya juga harus tahu situasi lapangan. Dan apa kita tega melepas begitu saja pasukan yang sekian lama kita bina bersama?. Maka untuk infiltrasi lewat laut kali ini, saya bersama Roedjito sengaja ikut berangkat, mencermati situasi dan untuk merancang program infiltrasi lanjutan...".

Tanggal 9 Januari 1962 malam, dengan berlindung di balik kegelapan, satu demi satu empat MTB tersebut segera menyelinap keluar, meninggalkan pangkalannya di Tanjung Priok, Jakarta. Dengan gagah, Sudomo yang ketika itu baru saja dinaikkan pangkatnya menjadi Kolonel, selaku Komandan STC IX, berdiri di anjungan RI Harimau, Pikirannya jauh melayang ke depan, membayangkan 2.000 mil laut rute pelayaran yang harus  ditempuhnya. Ke empat kapal STC IX ini sejak awal memang dirancang untuk bergerak secara rahasia. Mereka menangani tugas infiltrasi, dengan demikian semakin banyak orang tak tahu, semakin menguntungkan bagi misi yang sedang mereka laksanakan. Sementara itu, satu kompi pasukan putra daerah yang sudah dilatih, diberangkatkan pada tanggal 14 Januari dengan kapal terbang Herkules AURI, langsung dari Landasan udara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Ikut serta dalam pesawat yang sama Komodor Yos Soedarso, Kolonel Moersjid dan Letnan Kolonel Roedjito.

KIBARKAN MERAH PUTIH

Selama pelayaran menuju  daerah sasaran, ke empat MTB berada pada kondisi Total Black Out dan Radio Silence, mereka sama sekali tidak boleh menggunakan hubungan radio, di samping itu seluruh lampu kapal dipadamkan serta sejauh mungkin menghindari pertemuan dengan kapal-kapal niaga. Satu-satunya lampu yang boleh dinyalakan, sebuah lampu kecil di bagian belakang kapal. lampu itulah pedoman arah bagi kapal yang kebetulan berada di belakangnya," kata Kapten Sidhopramono, Komandan Matjan Kumbang, alumnus AAL 1960. Kecuali merancang pelayaran SCT IX dengan gerak melambung, menyusuri lebih dulu perairan Nusa Tenggara sebelum nantinya membelok ke arah timur laut ketika sudah mendekati daerah sasaran menyeberangi perairan Maluku, Sudomo juga  menetapkan tiga titik kumpul (rendezvous/RV) antara Jakarta sampai ke Maluku. RV pertama terletak di selat Madura, bertemu dengan RI Patimura. RV kedua di utara Flores dengan RI Rakata dan RV ketiga di dekat Pulau Udjir, Kepulauan Kai, Maluku. Lokasi rendezvous terakhir untuk bisa bertemu dengan RI Multatuli, sebelum masuk ke perairan Irian.

Ketiga titik pertemuan tersebut harus bisa ditemukan sendiri, karena di situlah kapal-kapal cepat torpedo harus mengisi tambahan bahan bakar. Selama pelayaran, musibah menimpa dua kapal, RI Matjan Kumbang. mengalami gangguan mesin, sehingga agak terlambat sampai di RV ketiga. Sementara itu RI Singa, tidak bisa mencapai RV ketiga, karena kehabisan bahan bakar di tengah jalan. Dengan demikian akhirnya, meskipun tidak bersamaan, hanya tiga MTB bisa mencapai perairan PuIau Udjir, merapat ke Rl Multatuli untuk menerima bahan bakar tambahan dan memuat para infiltran.

"Kami mendarat dengari cara nekat" kata Kolonel Moersjid. Ia merasa para penerbang Herkules AURI tampaknya mendarat dengan pedoman yang juga dalam situasi serba darurat. Mursjid menambahkan, "Dalam briefing awal di Jakarta, kami telah menerima penjelasan, landasan darurat di Pulau Langgur sudah selesai diperbaiki, sehingga bisa menampung pendaratan Herkules dengan nyaman. Tetapi setelah mendarat dengan suara gemuruh dan terbanting-banting, ketika keluar dari perut pesawat, yang kami temukan justru samak belukar setinggi manusia...".


Sesudah debarkasi pasukan selesai dilakukan di landasan darurat Pulau Langgur, para infiltran tersebut kemudian menyeberang  ke Pulau Udjir, tempat RI Multatuli membuang jangkar. Dengan cepat Herkules pengangkut pasukan segera terbang kembali pulang ke Jakarta. Menjelang sore hari, tanggal 15 Januari, di atas RI Multatuli, Sudomo Komandan STC IX, memberikan briefing tentang rencana operasi. Hadir lengkap ketiga komandan KCT. Kecuali itu juga ikut briefing Deputi Operasi KSAL Komodor Yos Soedarso, Asisten Operasi KSAD Kolonel Moesjid dan Letnan Kolonel Roedjito.

”Pangkat saya lebih yunior, tetapi karena saya komandan, sayalah yang harus bertanggung jawab dalam keseluruhan operasi," begitu Sudomo mengenang situasi saat itu. Ketika menguraikan rencana operasi, Sudomo menatapkan mereka akan berangkat meninggalkan RV ke tiga ini tepat pada pukul 24.00 tengah malam. Kecepatan rata-rata kapal ditentukan 20 mil per jam. Ketiga kapal harus tetap berlayar total Black out dengan selalu dalam formasi 18 (kiellinie), bergerak berurutan. RI Harimau berada paling depan, RI Matjan Tutul di tengah dan RI Matjan Kumbang paling belakang. "Ada pertanyaan?" tanya Sudomo.

Sudomo masih tetap berupaya agar Komodor Yos Soedarso tidak usah ikut berlayar. Saya ingatkan tugas kita hanya mengantar para infiltran sampai di daerah sasaran. Tetapi sayang beliau tetap menolak. Malahan minta agar dirinya di satukan dengan unit infiltran, pasukan ini harus mencapai pantai Irian dengan memakai perahu karet.

Atas pertimbangan tersebut, maka Sudomo kemudian menempatkan Yos Soedarso di Rl Matjan Tutul bersama para infiltran. Sementara dirinya dengan Moersjid dan Roedjito naik RI Harimau. Belakangan baru Sudomo tahu, keinginan Yos Soedarso untuk bisa ikut mendarat, didorong oleh tekadnya dalam memenuhi perintah Trikora dari Bung Karno. Khususnya bagian, kibarkan Bendera Merah Putih di bumi Irian. “Beliau sudah membawa bendera dari Jakarta, untuk bisa ditancapkan di Irian. Selanjutnya, beliau juga ingin mengambil sebongkah tanah Irian untuk di serahkan kepada Bung Karno."

DIKUNTIT NEPTUNE BELANDA

Dengan haluan 000 derajat dan formasi 18, ketiga MTB tersebut dengan serentak meninggalkan RI Multatuli. Setiap kapal membawa 30 anak buah kapal dan sekitar 40 infiltran, putra daerah yang akan didaratkan di Irian untuk memulai perang gerilya. Para infiltran beristirahat di geladak, di sela-sela perahu karet. Inilah alasan utama mengapa Sudomo lebih dulu menerbangkan mereka ke dekat perbatasan dengan pesawat udara, tidak ikut berlayar dengan MTB. Karena secara teknis memang tidak mungkin, kapal-kapal torpedo tersebut mengangkut pasukan sebanyak itu, berlayar sejauh 2.000 mil laut.

Sudomo menengok ke belakang. Nampak matahari mulai tenggelam di batas cakrawala, sehingga pemandangan sekeliling semakin lama semakin suram. Dari geladak RI Multatuli, yang terlihat hanya bayangan tiga kapal melaju dengan cepat, seakan-akan timbul tenggelam di antara gelombang laut Arafuru. "Laut sekeliling kami hitam pekat, malam itu bulan tak muncul di langit, mata kami semua memandang tajam ke arah radar," kata Sidhoparomo, Komandan RI Matjan Kumbang. MTB tersebut berada paling belakang, satu-satunya kapal yang tetap boleh menyalakan radar, karena bertugas sebagai Kapal Jaga Operasi (KJO). Sewaktu Jam menunjukkan pukul 19.30, Sudomo lewat radio walkytalky mengarahkan haluan konvoi untuk menuju 059 derajat. Inilah arah paling singkat untuk mencapai Vlakke Hoek, daerah tujuan yang terletak di pantai sebelah timur Sungai Aiduna.

Iring-iringan ke tiga MTB di Laut Arafuru ini agaknya tidak merasa, bahwa sejak pukul 20.25, mereka sebenarnya telah terdeteksi dari udara oleh Letnan H. Muckar Danoe, yang sedang berpatroli dengan pesawat Neptune. "Jarak pada saat itu lebih kurang sekitar 60 mil dari Vlakke Hoek," kata Mockar Danoe, keturunan Indonesia yang menjadi warga negara Belanda dan masuk dalam dinas militer Koninklijke Marine (KM), Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Dengan tangkas mereka langsung mengirim tanda bahaya dini kepada Hr. Ms.Evertsen, Hr. Ms. Kontenaer dan Hr. Ms. Utrecht yang juga sedang berpatroli di perairan setempat. Pukul 21.45 pesawat Neptune tersebut mulai mengambil posisi siap menyerang. Untuk menerangi sasaran, mereka lebih dulu menembakkan flare (roket suar).
Sayang sekali flare tesebut tidak menyala, sehingga roket juga tidak jadi di tembakkan. Pada saat itulah RI Matjan Kumbang sebagai kapal jaga melaporkan kepada Rl Harimau yang berada paling depan, mengenai adanya sebuah pesawat terbang yang melintas di atas konvoi. Secara bersamaan dilaporkan pula bahwa radar Matjan Kumbang telah mendeteksinya  2 echo pada baringan 070 derajat, dalam jarak sekitar 9 mil. "Saya segera mengambil teropong, saya telusuri cakrawala sesuai informasi dari Matjan Kumbang. Memang benar mulai terlihat siluet kapal perang Belanda di arah lambung kanan dan satu lagi di lambung kiri, Dengan gampang bisa kita kenali jenisnya, yang di lambung kanan adalah sebuah fregat dan sebuah kapal perusak (destroyer) kelas Holland, melihat cerobong muka yang bagian atasnya ada lekuk ke belakang. Dan di lambung kiri ada satu fregat lagi," kata Sudomo.

Terlihatnya tiga kapal musuh tersebut langsung diinformasikannya kepada Moersjid, yang berada di RI Harimau. Mereka kemudian tahu, kapal tersebut masing-masing adalah Hr. Ms. Evertsen,  Hr. Ms. Kontenaer dan kapal ketiga Hr. Ms. Utrecht, “Saya berkesimpulan, keberadaan kapal kita telah diketahui oleh musuh. Misi ini tak bisa dilanjutkan, harus dibatalkan. Tak pernah ada perintah operasi untuk menyerang Belanda, apalagi karena kita tidak punya senjata utama torpedo...". Persenjataan tidak seimbang, fregat dan destroy Belanda memiliki meriam 4,7 inci (12 cm) sebagai senjata utama, sedangkan KCT kita hanya memiliki senjata 40 mm dan 12,7 mm untuk menangkis serangan udara.

KONTAK SENJATA PUN PECAH

Pukul 21.50 Sudomo memerintahkan ketiga MTB putar haluan menuju arah 239 derajat dan menghindar secepat-cepatnya, untuk bisa kembali ke pangkalan. Nyaris secara serentak, ketiga kapal tersebut cikar kanan, menuju haluan 239 derajat. RI Harimau dengan kecepatan tinggi melampaui lambung kiri Matjan Kumbang, merubah haluan ke 239 derajat. Tetapi sementara itu, dengan mengejutkan, Matjan Tutul Justru memakai kekuatan penuh, lewat sebelah  kanan Matjan Kumbang dan malahan langsung mengambil haluan 329 derajat. Haluan ini justru mengarah ke posisi Hr. Ms. Evertsen. "Saya juga segera memerintahkan, kapal untuk langsung cikar kanan, sesuai perintah komandan STC IX, tetapi mendadak kemudi macet. Akibatnya kapal tak bisa ke depan, tetapi langsung berputar membuat lingkaran besar. Dalam situasi kritis ini, saya sangat terkejut, ketika justru disalip oleh Matjan Tutul dengan cepat kata Sidhoparomo, Matjan Kumbang baru bisa mengarah ke haluan yang benar, 239 derajat, setelah mereka memanfaatkan kemudi darurat di buritan kapal. Serangan yang kedua oleh Neptune di ulang pada pukul 22.02.

Tembakan peluru suar menerangi seluruh cakrawala, dilanjutkan dengan tembakan roket mengarah ke formasi STC IX, tetapi tidak ada yang mengenai sasaran. Tiga menit kemudian, begitu melihat bayangan pesawat terbang di atas formasi "Saya langsung perintah tembakan ke sasaran" kata Sidhopramono. Kedua meriam penangkis serangan udara 40 mm dan kedua senapan mesin 12,7 mm menyalak serentak.

Pada pukul 22.07 Hr. Ms. Evertsen pertama kali memuntahkan peluru Meriam 12 cm kepada Matjan Tutul karena diduga akan mengadakan serangan torpedo karena haluan 329 derajat yang mengarah kepadanya.
Pukul 22.08 terdengar lewat radio, perintah legendaris dari Komodor Yos Soedarso, "KOBARKAN SEMANGAT PERTEMPURAN".

Serentak dengan itu, tembakan dari kedua senjata 40 mm Matjan Tutul di arahkan langsung ke Hr. Ms. Evertsen. Tembakan yang memang sia-sia, karena letak sasaran berada jauh di luar jangkauan. Nampaknya pada saat itu, Yos Soedarso sudah mengambil alih pimpinan Matjan Tutul dari tangan Kapten Wiratno.

Pukul 22.10, sebuah tembakan Evertsen tepat mengenai buritan Matjan Tutul. Terjadi kebakaran kecil yang segera berhasil dipadamkan. Saat itu Matjan Tutul berganti haluan ke kiri, mengarah 239 derajat. Melihat manuver tersebut, Evertsen juga putar haluan ke kanan, ke haluan sejajar 239 derajat sambil terus menghujani Matjan Tutul dengan tembakan Meriam 12 cm.

Pukul 22.30, tembakan tepat kedua dari Evertsen mengenai bagian tengah Matjan Tutul. Kapal terlihat meledak, penumpangnya berhamburan di antara kobaran api yang sangat besar.

Pukul 22.35, tembakan Evertsen sekali lagi tepat kena anjungan RI Matjan Tutul, Kapal tersebut berhenti bergerak, dan pukul 22.50 mulai tenggelam ke dasar laut. Sepuluh menit kemudian, Evertsen melanjutkan pengejaran dan terus menghujani RI Harimau dengan siraman tembakan selama satu jam. Untung, tak satu pun peluru kena sasaran. "Saya alumni sekolah Artileri Angkatan Laut Belanda, Kursus pengendalian tembakan (Vuurleider Cursus). Maka saya tahu bagaimana caranya menghindari tembakan artileri kapal Belanda.

Sampai akhirnya pada sekitar pukul 23.45, Evertsen tak lagi melakukan pengejaran..." Saat itu pula Sudomo dengan sigap segera mengirim kawat ke MBAL di Jakarta. Ia memohon agar pihak MBAL secepatnya meminta bantuan MBAU untuk mengirim pesawat pembom AURI. "Saya minta mereka membom saja kapal-kapal Belanda yang sedang mengejar tersebut, karena jelas mereka semua sudah masuk ke dalam wilayah teritorial perairan Indonesia". Menurut Men/Pangal Martadinata kawat tersebut memang sampai ke Jakarta dan diteruskan ke MBAU, namun tampaknya Angkatan Udara ada kesukaran teknis operasional untuk dapat memenuhi permintaan yang sifatnya mendadak dan tidak terencana sebelumnya.

PENJELASAN  AHMAD YANI

Pukul 22.10, tembakan pertama meriam 12 cm dari Kontenaer mulai menghujani Matjan Kumbang. "Posisi kami sangat sulit, sekitar satu jam kami dihujani tembakan. Tetapi, setiap kali ada peluru jatuh di sebelah kanan, justru ke sana kapal saya arahkan. Begitu tembakan musuh jatuh ke kiri kapal, ke arah itu pula arah kapal saya".

Taktik menghindar dari serangan sebagaimana telah diperlihatkan Matjan Kumbang, ternyata membuahkan hasil. Meskipun kapalnya ditembaki oleh Hr. Ms. Kontenaer hanya dari jarak sekitar lima mil, terbukti RI Matjan Kumbang berhasil lolos. Terlebih lagi setelah Sidhopramono dengan nekat membawa kapalnya menembus masuk ke Laut karang ke dalaman tiga meter. Kontenaer tak lagi herani mengejar. "Sudah saya duga, sesuai dengan ukuran kapalnya, mereka pasti memerlukan kedalaman laut yang jauh di atas tiga meter. Sehingga mereka pasti tak akan berani mengejar", kata Sidhopramono.

Pertempuran laut antara ketiga MTB Indonesia dengan dua kapal perang Belanda yang dibantu oleh pesawat terbang Neptune, memang berlangsung dahsyat. "...saya justru menilainya cantik, penuh bunga api wama-wami dengan latar belakang langit hitam pekat. Kecuali itu, berlangsung sebagai layaknya pertarungan antar gentleman, jelas saling berhadap-hadapan. Tidak sebagaimana pertempuran di darat, kedua pihak saling  bersembunyi sehingga sama sekali tak nampak batang hidungnya" kata Moersjid mengenang pertempuran tersebut. Di Jakarta keesokan harinya, tanggal 16 Januari, Presiden / Panglima Besar Komando Pembebasan Irian Barat mengadakan Sidang luar biasa untuk membahas insiden Laut Arafuru. Persidangan tersebut dihadiri oleh semua Kepala Staf Angkatan dan seluruh Staf Operasi Pembebasan Irian Barat.

Sesudah satu seperempat jam bersidang, Kolonel Achmad Yani, juru bicara Staf Operasi Pembebasan Irian Barat, menjelaskan kepada pers, "Tidak benar Indonesia bermaksud mencoba melakukan invasi." "Tidak benar Indonesia bermaksud mengadakan pendaratan Itu sudah tidak mungkin, kalau melihat tipe kapalnya saja. MTB bukan imbang terhadap kapal-kapal perusak yang dikerahkan oleh Belanda. Kalau kita mau menyerang, tentu kekuatan yang kita kerahkan paling tidak mesti seimbang dengan apa yang mereka ajukan..." Achmad Yani juga mengakui pada kesempatan itu, sebuah Kapal Cepat Torpedo kepunyaan ALRI telah ditenggelamkan oleh pihak Belanda.

Komando Angkatan Laut Belanda di Hollandia, Irian, pada hari yang sama juga mengeluarkan pengumuman, "Kapal-kapal perang Indonesia yang dengan kecepatan tinggi sedang menuju ke pantai Irian telah melepaskan tembakan kepada kapal-kapal Belanda. Dalam pertempuran yang kemudian dengan cepat berlangsung, sebuah Kapal Cepat Torpedo (KCT) Indonesia terbakar ‘Kapal-kapal Belanda berhasil menangkap awak kapalnya yang mencoba menyelamatkan diri dalam sebuah sekoci pendarat karet, jumlah orang Indonesia yang tertangkap itu dua kali lebih besar dari jumlah awak kapal yang normal diperlukan bagi sebuah kapal cepat torpedo. Normal awak kapal jenis tersebut adalah 20 sampai 30 orang. Tetapi agaknya, MTB Indonesia mengangkut 70 sampai 90 orang. Hal ini menunjukkan pihak Indonesia sedang berusaha melakukan pendaratan di pantai Irian.

Petang harinya Radio Australia memberitakan, Belanda menawan 50 prajurit Indonesia dalam pertempuran itu, kapal-kapal perang Belanda mulai menembak suatu formasi kapal-kapal Indonesia yang sedang bergerak di perairan teritorial Belanda, di arah selatan Irian. Berita dari Den Haag, Negeri Belanda, yang dilaporkan oleh Kantor Berita Belanda DPA melukiskan, meluasnya perasaan khawatir dengan kenyataan, kapal-kapal Belanda telah melepaskan tembakan lebih dulu.

(Dicuplik dari buku LAKSAMANA SUDOMO, Mengatasi Gelombang Kehidupan)


Sumber :
Rixco
foto dari google


0 Response to "Pertempuran Laut Aru. Kisah Heroik Yos Sudarso yang Terkubur di Luasnya Samudra"

Poskan Komentar